Sudah lama

Sudah lama judulnya,
iya.. sudah lama gak nulis.
iya.. sudah lama gak menuangkan uneg-uneg di sebuah tulisan.
iya.. sudah lama pikiran ini numpuk gitu aja.
iya.. dan sudah lama banget, seperti hampir menua dengan pikiran.

Hahaha (ini kapan dimulai tulisannya ya?) :))

Jadi, selama ini.. selama gak nulis ini (dan cuma kebanyakan menjadi pe-like-ers sejati di tumblr) saya mengalami buanyaaak sekali pelajaran hidup #tsaaah
Iya, bener bener pelajaran hidup.

Dari mulai, saya belajar mengagumi orang yang jauh dr kriteria saya. Ini sungguh diluar dugaan sebenarnya. Tapi, alhamdulillah sudah dilalui dengan baik. Dan Allah mengirimkannya untuk menguji perasaan bukan menjadi pasangan hidup.

Kemudian, Saya belajar menjadi orang minoritas dalam pilihan capres-cawapres di kantor. Haha.. ini konyol sbnrnya, bisa loh saya di bully gegara pilihan yg beda diantara teman2 kantor. Untung ad Allah yg bisa memunculkan ke-bodo amat-an saya didepan teman2.

Lalu.. Saya belajar, bagaimana hidup itu adalah sebuah pilihan. Disini saya mengambil keputusan hidup untuk keluar dari zona nyaman. Memilih resign di kantor yg sebenarnya sangat nyaman, dg teman2 yg luar biasa, yg sudah seperti keluarga sendiri. Disinilah perjuangan itu muncul.. lebih memilih dg zona nyaman yg kita tak berkembang atau harus keluar dg mencoba tantangan baru dg harapan bisa berkembang. Hehe.. syemangat !!

Saya belajar, bagaimana berlapang dada untuk menerima orang lain masuk di keluarga saya. Yaa.. mungkin bisa dikatakan muncul nya calon ipar di keluarga. Ternyata beraat ya menerima orang lain muncul di keluarga dan ini memang akan dijalani..hihi.

Saya belajar, berfikir keras untuk mencari hikmah apa yg terjadi di hidup saya akhir akhir ini.

Saya belajar, bagaimana caranya menikmati setiap momen nya ramadhan tahun ini bersama keluarga. Dengan momen memilih sebagai pengangguran di bulan ramadhan ini. Dan saya bersyukur bisa banyak membantu kerjaan rumah selama bulan puasa ini.

Saya belajar, menahan diri untuk tidak banyak bergosip di bulan ramadhan. (Nah ini! Hehe). Pas ad niat mau nge gosip, langsung ngingeti lagi puasa.. trus bilang, “lanjutnya pas buka puasa aja ya” dan sampe jam buka puasa pun tak jadi gosip. Keburu dg kalap nya buka puasa, persiapan tarawih dan ngaji. Hihi.. alhamdulillah yaa..
Dan yang terpenting..

Saya belajar banyak tentang artinya syukur di sini, ketika saya bisa diberi hidayah oleh Allah.

Karena dengan adanya hidayah itu, saya bisa menulis ini. Saya bisa mencari jalannya syukur. Mencari hikmah dr apa yang terjadi.
Entah apa yg terjadi, ketika saya dijauhkan dari nikmat Allah ini (naudzubillahi min dzalik). Semoga kita semua selalu dilindungi oleh Allah. Selalu berada di hidayah Nya Allah, jalan Nya Allah. Aamiiin

  • <b> X :</b> see u soon<p><b>Y :</b> yeah.. *kemudian terdiam*<p><b>Kamu datang lagi? Padahal pernah menyakiti. Semoga aku tak akan pernah menemukan hati ku yang dulu. Iya, semoga ketika bertemu. Hatiku sedang bersama yang lain. Semoga :</b> ')<p>
kanjengzn

Buka Pagar Lebar-lebar

  • X : lo nggak usah tidur cepet ni malam, begadang aja depan teras, buka pagar lebar-lebar
  • gue : ha?? kenapa? ada meteor? gerhana bulan total? ada fenomena apa di langit?
  • X : eitsss..lo nggak gaul bgt ya. siapa tau aja ada "serangan fajar"....siapa tauuuu....
  • gue : damn it..!!! loe bener..! (buka pintu pagar lebar-lebar, belajar ujiannya depan pagar)
  • (sengklek...salah pergaulan kamu kanjeng...bertobatlah..! Tobattt..!)
isnidalimunthe

ridhaninggar asked:

Ikutan nanya Kak Isni via Tumblr, ahh.. ^_^ Maaf kalo pertanyaannya udah pernah ditanya orang dan udah dijawab, ya. Tanpa bermaksud SARA, saya beneran penasaran aja, Isni kan haqqul yakin banget, nih, milih nomor 2. Bagaimana Isni "melewati" dilema pertimbangan faktor "menghindari mudharat bagi agama"? Terlebih mengingat banyak teman dakwah dan ikhwah fillah juga ulama yang juga haqqul yakin memperjuangkan nomor 1 demi menyelamatkan agama. Kalo nggak enak dijawab di publik, privat juga boleh. :)

isnidalimunthe answered:

JAWAB PUBLIK AJA BIAR HEBOH SEKALIAN #EAAAAAAA.

Pertama dan yang paling utama, aku berlindung kepada Allah dan mohon ampun atas kekurangan iman dan ilmu yang aku miliki yang menyebabkan aku mantap untuk pilih nomer 2. Semoga ketika ditanya di akhirat nanti, pilihan aku ini bukan sesuatu yang justru membuat berat di akhirat.

Hmm, sebenarnya (dalam konteks di negara Indonesia yang mayoritas penduduknya Islam), menyelamatkan agama itu maksudnya apa yah? Dan mau menyelamatkan Islam dari bahaya siapa? Menurutku, “mudharat bagi agama” yang digadang-gadangkan itu masih bias, tolong sebutkan mudhorat bagi Islam kalau Pak Jokowi terpilih jadi presiden, kali-kali akunya yang kurang pinter. :)

Justru, cara memimpin Pak Jokowi yang demokratis yang menurut aku akan membuat Islam justru dapat lebih berkembang dakwahnya dengan leluasa karena Pak Jokowi adalah orang yang demokratis.

Kita, penganut agama Islam adalah mayoritas di Indonesia ini, tapi kenapa kita paranoid banget dan merasa inferior? Parno sama JIL yang cuma sebesar biji kutil, atau takut sama Amerika? Emang bisa jamin yah kalau Amerika dan kroninya bisa keluar dari negara kita kalau nomer 1 yang jadi presiden? :)

Penghubung antara ketidaktahuan apa yang terjadi di masa depan dengan pilihan kita adalah KEYAKINAN. Itu sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara kuantitatif. Aku yakin aja kalau Pak Jokowi tidak akan seperti ketakutan yang disebutkan di kampanye-kampanye negatif tentang beliau.

Walaupun aku berusaha untuk tidak melihat dari aspek itu, tapi kalau mau nantangin untuk merunut-runut ke-Islam-an kandidat, tanpa mengurangi rasa hormat aku kepada kandidat manapun, kandidat nomer 1 di beberapa kesempatan mengaku beliau tidak taat menjalankan ritual agama. Silakan cari referensinya kalau tidak percaya. :) Kalau mau objektif-objektifan, lebih Islami kandidat nomer 2 lah. Seluruh keturunannya Islam dan taat pula menjalankan ibadah. Yang paling penting, kalau kata dwiki, GA ADA YANG PERNAH MENGAITKAN KANDIDAT NOMER 1 DENGAN KEBANGKITAN ISLAM SEBELUM KOALISI-KOALISI KACANG KAPRI INI TERBENTUK. Jadi, gosah pura-pura lugu dan ujug-ujug bilang kandidat nomer 1 pro Islam dan akan menyelamatkan Islam.

Jadi, pertanyaannya, ini mau menyelamatkan Islam, atau mau menyelamatkan kelompok tertentu yang so-called-selalu-memperjuangkan-Islam biar dapat kue kekuasaan? Kalau mau menyelamatkan kelompok tersebut biar tetap dapat kue kekuasaan, jadikan itu jualan. Gosah mengatasnamakan Islam. Apalagi sampai lempar isu kalau kandidat nomer 2 ga pro Islam. 

Kandidat nomer 2, berintegritas, jujur, sederhana, tegas, menjaga kedamaian, justru mencerminkan nilai-nilai seorang pemimpin yang diinginkan Islam.

Seorang kakak pernah bilang ke aku, “Semua itu sunnatullah. Kalau kita belum bisa merangkul umat Islam dengan benar, maka sunnatullah nya adalah kita tidak akan dipercaya untuk menjadi pemimpin di antara mereka.” :)

Berhubung tidak ada di antara kedua kandidat yang secara karakter memang terang-benderang membawa agenda-agenda Islam, maka aku percaya kandidat nomer 2 saja, berdasarkan keyakinan dan rekam jejak yang bersangkutan. :)

Dan satu lagi yang kadang miris, jangan sampai maksud hati membela jagoan karena alasan demi Islam, tapi cara kita membelanya dan menjatuhkan kandidat lain sama sekali tidak mencerminkan akhlak seorang yang beragama Islam :))

At the end, 

May your choice reflect your hopes, not your fears" -Nelson Mandela-

Kurang lebih minta maaf :)

BerSEMANGAT!!

Yeah agree!